MOJOKERTO, GSN.com – 10/10/2026, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, tidak hanya dikenal sebagai kawasan bersejarah peninggalan Kerajaan Majapahit. Di balik jejak kejayaan kerajaan masa lampau, kawasan ini juga menyimpan situs pemakaman Islam kuno yang menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah dan perkembangan Islam di Tanah Jawa.
Salah satu situs yang dikenal luas masyarakat adalah Kompleks Makam Troloyo, yang berada di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Kompleks pemakaman ini menjadi salah satu tujuan ziarah masyarakat dari berbagai daerah, sekaligus tempat untuk mengenang tokoh-tokoh yang dalam tradisi masyarakat setempat dikaitkan dengan penyebaran Islam di Jawa.
Salah satu tokoh yang paling dikenal di kompleks tersebut adalah Sayyid Jumadil Kubro, yang oleh sebagian masyarakat dan tradisi ziarah diyakini sebagai Punjer Wali Songo, yakni sosok leluhur yang memiliki keterkaitan dengan para wali penyebar Islam di Jawa.
Dalam kunjungannya ke Kompleks Makam Troloyo, Pimpinan Redaksi target-24jam.com, Jeky Ridwan, merasakan suasana yang istimewa dan penuh makna. Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk berziarah, mengenang sejarah, sekaligus merefleksikan pentingnya menjaga sikap saling menghormati antarsesama umat Islam.
“Bagi saya, tempat ini memiliki suasana yang istimewa. Ziarah bukan hanya tentang mengenang para tokoh terdahulu, tetapi juga menjadi pengingat bagi kita untuk terus menjaga persaudaraan, menghormati sesama, dan memperkuat nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat,” ungkap Jeky Ridwan, salah satu jurnalis Mojokerto.
Menurutnya, keberadaan situs bersejarah seperti Makam Troloyo patut dijaga dan dihormati sebagai bagian dari warisan sejarah serta budaya masyarakat. Selain menjadi tempat ziarah, kawasan ini juga dapat menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda agar lebih mengenal perjalanan sejarah daerahnya.
Jeky Ridwan menambahkan bahwa perbedaan latar belakang dan pandangan hendaknya tidak menjadi penghalang untuk membangun kebersamaan. Sebaliknya, sikap saling menghargai, menjaga kerukunan, dan mempererat tali silaturahmi perlu terus ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menjaga Warisan Sejarah, Merawat Persaudaraan
Kompleks Makam Troloyo menjadi salah satu pengingat bahwa Mojokerto memiliki kekayaan sejarah yang beragam. Jejak peninggalan Majapahit dan situs-situs yang berkaitan dengan perkembangan Islam menjadikan Trowulan sebagai kawasan yang memiliki nilai historis dan budaya bagi masyarakat.
Melalui kegiatan ziarah, masyarakat diharapkan tidak hanya mengenang tokoh-tokoh terdahulu, tetapi juga mengambil hikmah dari nilai perjuangan, keteladanan, dan semangat menjaga persaudaraan.
Bagi Jeky Ridwan, menghormati sejarah merupakan bagian dari upaya menghargai perjalanan masa lalu, sedangkan menjaga kerukunan adalah tanggung jawab bersama untuk membangun kehidupan yang damai, harmonis, dan penuh kepedulian.
“Semoga kita semua senantiasa diberikan kesempatan untuk berbuat baik, menjaga persatuan, serta menghormati sesama. Mari kita rawat warisan sejarah dan budaya, sekaligus memperkuat persaudaraan demi kehidupan masyarakat yang lebih damai,” pungkasnya.
Reporter: Jeky Ridwan


